
LAPORAN KEGIATAN ON FARM
AGRIBISNIS
AYAM PEDAGING (BROILER)
PENCEGAHAN PENYAKIT AYAM PEDAGING (BROILER)
Disusun Sebagai Salah Satu Prasyarat Menyelesaikan
Program Diploma IV Politeknik Negeri Jember
Kerjasama
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian
Oleh
Nama
: Muhamad Kabul Triatmaja
NIM :
C41111105
PROGRAM
DIPLOMA IV
POLITEKNIK
NEGERI JEMBER
KERJASAMA
PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK
DAN TENAGA
KEPENDIDIKAN
PERTANIAN
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Salah satu upaya untuk
memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, sub sektor peternakan mempunyai peranan
yang penting dalam penyediaan protein hewani. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut
diperlukan ternak yang dapat berproduksi relatif cepat. Usaha peternakan ayam
broiler atau ayam pedaging merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat akan daging ayam.
Tingkat konsumsi daging
ayam di Indonesia sudah cukup tinggi, hal ini bisa dilihat dari banyaknya pasar
yang menjual daging ayam dan rumah makan siap saji yang menyediakan menunya
berupa makanan yang terbuat dari daging ayam ataupun makanan olahan dari daging
ayam itu sendiri. Tingginya tingkat konsumsi daging ayam ini dapat dijadikan
peluang besar untuk memelihara dan memasarkan daging ayam siap konsumsi dengan
pengawasan kualitas yang terkontrol.
Dalam rangka memenuhi
kebutuhan daging ayam yang semakin meningkat dapat ditempuh dengan usaha
buddidaya ternak unggas khususnya ayam pedaging (broiler). Ayam ras pedaging
disebut juga broiler yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari
bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi dalam memproduksi
daging. Sebenarnya ayam broiler ini baru popular di Indonesia sejak tahun
1980-an. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan
berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu ayam pedaging sudah bisa dipanen.
Dengan waktu pemeliharaan yang relative singkat dan menguntungkan maka banyak
peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan berbagai wilayah
Indonesia.
Dalam tata laksana
pemeliharaan ayam kesehatan merupakan salah satu kunci penentu keberhasilan.
Motto klasik tetap berlaku sampai saat ini, yaitu pencegahan lebih baik
daripada pengobatan, sehingga tindakan-tindakan seperti pencegahan penyakit,
vaksinasi dan pelaksanaan biosekuritas di lingkungan peternakan secara
konsisten harus dilaksanakan. Sehubungan dengan hal itu dalam kegiatan on farm ini perlu diketahui bagaimana
penerapan pencegahan kesehatan dilakukan pada peternakan ayam broiler sehingga
dapat menunjang produktivitas.
1.2. TUJUAN
KEGIATAN
1.2.1.Tujuan Umum
1. Mengenalkan fakta lapangan kepada
mahasiswa melalui kegiatan yang dapat menghasilkan produk akhir yang merupakan
penerapan dari matakuliah kejuruan.
2. Mebentuk sikap dan jiwa pertanian
mahasiswa sesuai dengan bidang peminatan yang ditekuni.
3. Melatih mahasiswa membuat dan
mengelola recording berdasarkan
kegiatan lapangan yang dilakukan.
4. Melatih mahasiswa dalam menyajikan
data dan fakta hasil kegiatan melalui laporan dan seminar.
1.2.2.Tujuan Khusus
1. Mengetahui cara sanitasi kandang dan
lingkungan peternakan ayam pedaging.
2. Mengetahui cara vaksinasi pada ayam
pedaging.
3. Mengetahui pencegahan penyakit pada
ayam pedaging.
4. Mampu melakukan penanganan kesehatan
pada pemeliharaan ayam pedaging.
1.3. MANFAAT
1.
Sebagai
proses belajar yang akan memberikan banyak tambahan ilmu dan pengetahuan bagi
penulis. Juga dapat dijadikan sebagai suatu bentuk pemahaman dan pengaplikasian
dari materi-materi yang yang telah didapat dari perkuliahan atas peristiwa ekonomi
yang terjadi.
2.
Mahasiswa
dapat belajar menjadi seorang pemimpin dan melatih tanggung jawab serta
mengaplikasikan teori yang ada dalam perkuliahan untuk diterapkan dilapangan.
3.
Mahasiswa
mampu terlibat dalam manajemen sebuah peternakan unggas komersial.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Ayam Pedaging (Broiler)
Broiler adalah istilah
untuk menyebutkan strain ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki
karakteristik ekonomis dengan ciri khas yaitu pertumbuhan yang cepat, konversi
pakan yang baik dan dapat dipotong pada usia yang relatif muda sehingga
sirkulasi pemeliharaannya lebih cepat dan efisien serta menghasilkan daging
yang berkualitas baik (Murtidjo, 1987).
Ayam pedaging adalah jenis ternak bersayap dari kelas aves yang telah didomestikasikan
dan cara hidupnya diatur oleh manusia dengan tujuan untuk memberikan nilai
ekonomis dalam bentuk daging (Yuwanta, 2004). Menurut Rasyaf (1992), ayam
pedaging adalah ayam jantan dan betina muda yang berumur dibawah 6 minggu
ketika dijual dengan bobot badan tertentu, mempunyai pertumbuhan cepat, serta
dada yang lebar dengan timbunan daging yang banyak. Banyak strain ayam pedaging
yang dipelihara di Indonesia. Strain merupakan sekelompok ayam yang dihasilkan
oleh perusahaan pembibitan melalui proses pemuliabiakan untuk tujuan ekonomis
tertentu. Kepadatan kandang untuk ayam pedaging adalah 10-13/m2
untuk bobot badan sekitar 1,8 kg (Indarto, 1990).
Cahyono (2004) menjelaskan
bahwa ayam pedaging atau yang lebih dikenal dengan sebutan ayam broiler telah
banyak diusahakan dan dikembangkan. Ayam pedaging memiliki pertumbuhan bobot
badan yang sangat cepat dengan perolehan timbangan berat badannya dapat
mencapai 1,3-1,8 kg. ayam broiler mempunyai kemampuan mengubah bahan makanan
menjadi daging dengan sangat hemat artinya dengan jumlah makanan yang sedikit
dapat diperoleh tingginya penambahan berat badan.
Tiap strain atau galur
ayam diberi nama tersendiri sesuai dengan perusahaan pembibitan yang
memproduksi strain final stock yang
bersangkutan sehingga dikenal berbagai macam galur atau strain dipasaran,
seperti Super 77, Tegel 70, ISA, Goto, Yabro, Bromo, dan sebagainya. Strain
ayam pedaging tersebut memiliki ukuran badan besar dan kokoh, timbangan tubuh
mencapai 1,7 kg pada betina umur 42 hari, 2 kg pada jantan umur 42 hari,
tubuhnya banyak mengandung daging dan lemak, produksi telurnya sedikit, otot
kaki pada sisi belakang tebal, daging berwarna putih bersih, empuk, dan tulang
rawan pada bagian dadanya lunak (Cahyono, 2004).
Menurut rasyaf (2002),
faktor pertumbuhan ayam broiler merupakan hasil interaksi antara faktor
hereditas dengan lingkungannya sehingga hasilnya akan tergantung pada strain
broiler yang dipelihara, mutu pakan yang diberikan, sistem perkandangan, dan
pencegahan penyakit.
2.2.
Kesehatan Ayam Pedaging (Broiler)
Faktor yang sangat
berpengaruh pada kesehatan ternak adalah lingkungan, jika lingkungan disekitar
kandang kotor akan memudahkan berkembangnya penyakit yang menyerang ayam. Usaha
yang dilakukan dimulai dari awal baik sanitasi dan vaksinasi. Sanitasi
dilakukan sebelum ayam datang dengan membersihkan lingkungan kandang dan
kandang. Feses yang tertinggal dalam kandang dikemas dalam karung yang kemudian
akan dijual sebagai pupuk kandang. Kandang dicuci dengan air dan disikat
setelah kering kemudian disemprot dengan desinfektan Biosep kemudian diberi
dikapur dan diistirahatkan selama seminggu. Pembersihan kotoran pada lantai
kandang berguna untuk menghindari terjangkitnya wabah penyakit, karena ada
kotoran yang tidak tertembus disinfektan (Murtidjo, 1992).
Tujuan akhir usaha
budidaya ayam pedaging adalah ayam tubuh sehat, potensi genetic (performance) tercapai standar sesuai
dengan jenis (strain) ayam yang
dipelihara. Parameter yang sering digunakan untuk mengetahui bagus tidaknya
potensi genetic (performance) ayam
tersebut adalah bebas dari penyakit (sehat), tingkat kematian (mortality) rendah, rataan pertambahan
berat badan harian (average daily gain
atau ADG) sesuai standar, konversi pakan menjadi daging (feed convertertion
ratio atau FCR) tinggi, dan bentuk tubuh sempurna (Fadilah, 2011)
Berdasarkan pengamatan
secara fisik, ciri-ciri ayam pedaging yang sehat sebagai berikut :
a. Gerakan lincah dan aktif.
b. Muka dan mata ayam cerah (tidak
mengantuk)
c. Nafsu makan dan minum baik.
d. Berbulu cerah berminyak, tidak kusam,
dan tidak berdiiri.
e. Berdiri tegak, kaki kokoh, dan bentuk
tubuh proporsional.
f.
Sayap
tidak jatuh dan posisi kepala terangkat dengan baik.
g. Tidak terdengar gejala pernapasan
bersuara (ngorok) atau batuk.
h. Berat badan sesuai dengan umur (standar)
i.
Anus
bersih tidak ada kotoran yang menempel.(Fadilah, 2011)
2.3.
Sanitasi
Sanitasi
(pembersihan dan desinfeksi)
Tindakan
yang sering dilakukan peternak untuk menjaga farm dari infeksi penyakit
adalah sanitasi. Sanitasi merupakan tindakan untuk membunuh patogen atau bibit
penyakit. Sanitasi yang paling sering dilakukan peternak adalah dengan
desinfeksi atau penyemprotan kandang menggunakan desinfektan. Dengan asumsi
desinfektan tersebut akan membunuh bibit penyakit di kandang atau lingkungan
kandang. Sebenarnya tindakan sanitasi tidak hanya berkaitan dengan desinfeksi
saja, namun ada banyak kegiatan lain yang merupakan sanitasi, seperti sebelum
pekerja atau tamu masuk ke dalam kandang mencuci tangan menggunakan sabun,
menggunakan baju khusus untuk bekerja, menggunakan alas kaki (sandal atau
sepatu boots) khusus untuk masuk ke dalam kandang, celup alas kaki dalam
desinfektan (Antisep, Medisep).
Untuk mengoptimalkan hasil desinfeksi, peternak harus melakukan pembersihan (cleaning).
Pembersihan ini akan menghilangkan zat atau material asing yang sering menempel
atau berada di kandang. Sebagai contoh debu, tanah, litter yang menempel
di lantai kandang, materi-materi organik seperti feses, leleran ingus, darah
dan mikro-organisme. Materi organik yang masih berada di sekitar kandang
(lantai atau tembok kandang) dapat mempengaruhi kerja desinfektan golongan quats (Medisep, Zaldes) dan
halogen (Antisep, Neo Antisep, Desinsep, kaporit) sehingga kurang
efektif bekerja. Pendukung desinfeksi yang lainnya yaitu dosis pemakaian
desinfektan harus tepat, jumlah larutan harus disesuaikan dengan luasan kandang
dan waktu kontak desinfektan harus sesuai karena akan mempengaruhi desinfektan
dalam membunuh bibit penyakit. (Darmawan, 2009)
Sanitasi
menurut (Fadilah, 2004) ada 7 tahap yaitu :
1. Merapikan dan memisahkan peralatan
sesuai dengan fungsinya, selanjutnya semua peralatan dibersihkan dan dicuci
dengan air. Setelah itu semua peralatan dibersihkan dengan disenfektan.
2. (a). Membersihkan semua kotoran dan
barang yang tidak dipakai. (b). Pupuk kandang harus langsung dibersihkan dan
diangkut keluar lokasi. (c). Menyapu lantai kandang sampai bersih. (d).
Memasang tirai atau layar penutup kandang. (e). Membersihkan rumput disekitar
kandang.
3. Mencuci kandang dengan sprayer tekanan
tinggi yang dimulai dari kandang bagian atas, dinding, tirai, hingga lantai.
Bisa juga mencuci dengan deterjen dengan perbandingan 1 kg deterjen dengan 1000
liter air.
4. Melakukan sterilisasi dengan
menggunakan disenfektan yang berspektrum luas (broad Spektrum).
5. Menaburkan kapur tohor kebagian dalam
kandang, lantai dan sekeliling luarnya dengan dosis 0.2-0.5 kg/m2 .
6. Membiarkan kandang selama 2-3 hari
hingga bagian kandang kering.
7. Menabur sekam dengan ketebalan 10 cm.
sebelum dpakai, sekam harus difumigasi menggunakan formalin dan kalium
permanganate, dengan dosis 2 : 1 ( 40 ml formalin : 20 gram kalium
permanganat).
2.4.
Isolasi
Menurut
(Darmawan, 2009), isolasi merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk
memisahkan ayam dari serangan kuman pathogen penyebab penyakit dan menghindari
penularan penyakit dari ternak yang sakit ke ternak yang sehat untuk memudahkan
dalam pengobatan. Ayam sakit harus ditempatkan dalam kandang tersendiri atau
kandang karantina yang jauh dari ayam sehat. Adapun kegiatan isolasi yaitu :
a)
Tidak
memelihara ayam yang berbeda umur dalam satu kandang ternak.
b)
Para
pengunjung atau tamu tidak diperbolehkan masuk ke dalam kandang.
c)
Gudang
untuk litter dan peralatan lain ditempatkan sejauh mungkin dari kandang.
d)
Menjaga
jangan sampai burung dari luar, lalat, tikus dan binatang lainnya dapat masuk
dan menggangu ayam.
e)
Jika
ternak yang diisolasi sudah sehat dapat dicampur lagi ke dalam kandang ternak
yang sehat.
2.5.
Vaksinasi Pada Ayam Pedaging (Broiler)
Vaksinasi
merupakan upaya memasukan bibit penyakit yang telah dilemahkan atau telah mati
kedalam tubuh unggas yang sehat untuk memperoleh kekebalan penyakit tertentu.
Menurut Abidin (2002) vaksinasi pasif adalah proses memasukan bibit penyakit
yang sudah mati, sedangkan vaksinasi aktif adalah proses memasukan bibit
penyakit yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh ayam, baik melalui injeksi,
campuran air minum, maupun tetes mata. Vaksin digunakan dengan tujuan untuk
mencegah penyakit asal virus, misalnya ND dan Gumboro (Rasyaf, 2007).
Program
vaksinasi dilakukan sebanyak tiga kali setiap periode pemeliharaan. Vaksinasi
terdiri dari ND 1 dilaksanakan pada umur 4 hari dengan metode tetes mata,
Gumboro dilaksanakan pada umur 13 hari dengan metode air minum, dan ND 2
dilaksanakan pada umur 19 hari dengan metode air minum (Sudaryani, 2003).
Vaksinasi umumnya dilakukan untuk mencegah serangan penyakit yang disebabkan
virus.
2.5.1.
Jenis-jenis Vaksin
Menurut
(Jahja, 2000), vaksin ada dua macam yaitu vaksin aktif dan vaksin inaktif.
Ø Virus hidup (vaksin aktif) adalah vaksin
yang berisi virus hidup yang telah dilemahkan, akan tumbuh dan berkembang biak
didalam tubuh ternak. Vaksin aktif adalah vaksin yang mikroorganismenya masih
aktif atau masih hidup. Biasanya vaksin aktif berbentuk sediaan kering beku,
contoh : MEDIVAC ND LA SOTA, MEDIVAC ND-IB dan MEDIVAC GUMBORO A.
Ø Vaksin mati (Vaksin inaktif) adalah
vaksin yang berisi virus atau bibit penyakit. Mikroorganisme dalam vaksin mati
apabila disimpan pada suhu yang panas atau terkena sinar matahari langsung
vaksin akan rusak atau tidak bagus, maka perlu diperhatikan saat pengangkutan
atau waktu penyimpanan dalam suhu rendah (2-8ºC) dan sampai saat vaksin
digunakan. Ayam hanya dapat membentuk kekebalan tubuh dengan dosis vaksin yang
telah telah ditetapkan. Vaksin inaktif adalah vaksin yang mikroorganismenya
telah dimatikan. Biasanya berbentuk sediaan emulsi atau suspense, contoh :
MEDIVAC ND-EDS EMULISION, MEDIVAC CORYZA B.
2.5.2.
Jadwal Pelaksanaan Vaksinasi
Menurut (Sudaryani, 2003) jadwal
pelaksanaan vaksinasi dapat dilakukan tergantung pada umur ayam. Adapun waktu
pelaksanaannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 1. Jadwal
penanganan kesehatan dengan cara pemberian vaksinasi dan waktu vaksinasi
|
No
|
Umur
ayam
|
Jenis
vaksin
|
Cara
pemberian
|
|
1
|
3-4
hari
|
ND
I
|
Tetes/Spray
|
|
2
|
12-16
hari
|
Gumboro
|
Minum
|
|
3
|
18-20
hari
|
ND
II
|
minum
|
Keterangan :
1.Pada
umur empat hari, ayam divaksinasi ND dengan jenis vaksin aktif. Vaksinasi
dilakukan dengan cara tetes mata dan sebelum vaksinasi ayam tidak dipuasakan
terlebih dahulu. Vaksinasi dilaksanakan mulai pukul 7 pagi sampai pukul 13
siang. Vaksin yang digunakan sebanyak 6000 dosis untuk 5500 ekor ayam (1,09 cc
atau ekor). Vaksin yang digunakan disimpan dalam termos es supaya vaksin selalu
dalam keadaan dingin, dengan tujuan agar vaksin tidak cepat rusak.
Cara
kerja dalam pemberian vaksin ini yaitu, pertama-tama giring seluruh ayam ke
suatu sudut kandang, lalu beri sekat. Kemudian teteskan vaksin pada ayam satu
persatu. Simpan ayam yang sudah diberi vaksin di bagian sekat yang kosong.
Usahakan vaksin yang digunakan selalu dalam keadaan dingin sampai vaksinasi
selesai.
2.Pada
umur 13 hari, ayam divaksinasi Gumboro dengan jenis vaksin aktif. Vaksinasi
dilakukan dengan cara oral (dicampurkan dengan air minum). Sebelum vaksinasi
dilaksanakan, ayam dipuasakan terlebih dahulu selama ± 2 jam. Vaksinasi
dilaksanakan pada pukul 7 pagi. Vaksin yang digunakan sebanyak 6000 dosis untuk
5500 ekor ayam. Vaksin tersebut kemudian dicampur dengan 200 liter air,
kemudian diisikan ke dalam galon tempat air minum masing-masing sebanyak 2
liter. Setelah vaksin habis diminum oleh ayam, kemudian galon tersebut diisi
dengan air putih biasa.
3.Pada
umur 19 hari, ayam divaksinasi ND 2 dengan jenis vaksin aktif. Dosis dan cara
pemberian vaksin sama dengan saat vaksinasi Gumboro.
2.5.3.
Persyaratan
Vaksinasi
Menurut
Sujoni (2007), hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat pemberian vaksin
adalah :
a. Vaksin hanya dilaksanakan pada hewan
yang sehat.
b. Selalu cek tanggal kadaluarsa (Expire Date) pada vaksin.
c. Gunakan selalu diluent (pelarut) yang tepat.
d. Gunakan selalu dosis yang tepat.
e. Syringe dan needle yang digunakan harus dalam keadaan yang steril.
f.
Alat
dan bahan harus seluruhnya dalam keadaan yang steril.
g. Bakar semua bekas box DOC.
h. Disenfeksi alat dan bahan bekas
vaksin.
i.
Alat
yang terbuat dari plastik harus selalu didesinfeksi.
j.
Lepaskan
seluruh pakaian kandang dan cuci terpisah.
k. Cuci dan disenfeksi tangan setelah
vaksinasi.
l.
Catat
setiap pelaksanaan vaksinasi terutama nomor batch
vaksin.
2.5.4.
Cara Melaksanakan Vaksinasi
Cara
vaksinasi yang benar adalah saat vaksin yang akan digunakan telah dipastikan
berkualitas dan waktu pelaksanaan vaksinasi tepat dengan waktu serangan
penyakit, maka penentuan terakhir dan terpenting ialah vaksin dilakukan secara
tepat. Sebelum melakukan vaksinasi sebaiknya ayam dipuasakan (tidak diberi
minum selama 2-3 jam). Keberhasilan suatu vaksinasi ditentukan oleh beberapa
faktor, yaitu faktor tata laksana, faktor vaksin, dan faktor individu. Faktor
tata laksana meliputi cara vaksinasi,
keterampilan vaksinator (orang yang memberikan vaksinasi), dan kondisi
lingkungan. Faktor vaksin meliputi kualitas vaksin, jenis vaksin, cara
penyimpanan vaksin. Sedangkan faktor individu adalah faktor kesehatan ayam,
dimana dianjurkan vaksinasi dilakukan pada saat ayam memiliki kondisi yang
sehat, dimana dianjurkan vaksinasi dilakukan dengan 6 cara, yaitu vaksinasi
melalui air minum; vaksinasi intraocular (tetes
mata) dan intranasal (tetes hidung);
vaksinasi dengan injeksi instramuscular
(tusuk daging) dan subcutan (bawah
kulit); vaksinasi melalui air minum; dan vaksinasi spray (semprot) (Sudaryani, 2003).
Adapun
cara melaksanakan vaksinasi ialah :
A. Tetes mata (intraocular)
Melaksanakan vaksinasi dengan cara
meneteskan vaksin ke mata ayam.
B. Tetes hidung
Melaksanakan vaksinasi dengan cara
meneteskan vaksin ke dalam lubang hidung.
C. Tusuk daging (intramuscular)
Vaksinasi dilaksanakan dengan cara
menyuntikkan vaksin ke dalam daging, biasanya bagian dada atau paha. Vaksin
yang disuntikkan bias berupa vaksin live
atau vaksin killed.
D. Suntik bawah kulit (subcutaneous)
Vaksinasi dilaksanakan dengan cara
menyuntikkan vaksin dibawah kulit, biasanya disekitar leher.
E. Melalui air minum (drinking water)
Vaksinasi diberikan melalui air minum.
Air minum yang digunakan untuk melarutkan vaksin harus bersih dan bebas klorin.
Peralatan yang dipakai harus bebas dari disenfektan lebih dari dua hari. Vaksin
bisa diperpanjang umurnya dengan cara menambahkan 2-5 gram susu skim per liter
air, tergantung dari kondisi air.
F. Penyemprotan (spray)
Cara ini sering digunakan untuk
vaksinasi ayam yang baru berumur satu hari. Sebelum ayam dimasukkan kedalam
pemanas, alat semprot yang akan digunakan sudah terpasang sehingga boks ayam
bisa langsung dimasukkan kedalam kotak sprayer.
Setelah semua komponen siap,
vaksinasi segera dilaksanakan dengan cara menyemprotkan vaksin sebanyak 1-2
kali. Aplikasi vaksinasi untuk ayam besar dilakukan di lingkungan yang
terkontrol atau tidak banyak angin.
2.6. Biosecurity
Biosecurity
adalah semua tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian
wabah dan dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan kontak atau penularan
dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit (Dwicipto, 2010) .
Biosekuriti
mencakup tiga hal utama :yaitu (1) Meminimalkan keberadaan penyebab penyakit,
(2) Meminimalkan kesempatan agen penyakit berhubungan dengan induk semang dan
(3) Membuat tingkat kontaminasi Lingkungan oleh agen penyakit seminimal
mungkin. Selanjutnya bila biosekuriti dilihat dari segi hirarki terdiri atas
tiga komponen yaikni biosekuriti konseptual, biosekuriti structural dan
biosekuriti operasional.
Biosekuriti
konseptual merupakan biosekuriti tingkat pertama dan menjadi basis dari seluruh
program pencegahan penyakit, meliputi pemilihan lokasi kandang, pemisahan umur
unggas, control kepadatan dan kontak dengan unggas liar, serta penetapan lokasi
khusus untuk gudang pakan atau tempat mencampur pakan.
Biosekuriti
struktural, merupakan biosekuriti tingkat kedua, meliputi hal-hal yang
berhubungan dengan tataletak peternakan (farm),
pernbuatan pagar yang-benar, pembuatan saluran pembuangan, penyediaan peralatan
dekontaminasi, instalasi penyimpanan pakan, ruang ganti pakaian dan peralatan
kandang.
Sedangkan
biosekuriti operasional adalah biosekuriti tingkat ketiga, terdiri dari
prosedur manajemen untuk mencegah kejadian dan penyebaran infeksi dalam suatu farm. Biosekuriti ini harus ditinjau
secara berkala dengan melibatkan seluruh karyawan, berbekal status kekebalan
terhadap penyakit. Biosekuriti operasional terdiri atas tiga hal pokok, yakni
(a) pengaturan traffic control, (b) pengaturan dalam farm dan, (c) desinfeksi
yang dipakai untuk semprot kandang maupun deeping seperti golongan fenol
(alkohol, lisol dan lainnya); formalin; kaporit; detergen, iodine dan
vaksinasi. (Dwicipto, 2010)
Menurut (Akhirany,
2010), biosecurity adalah suatu tindakan untuk menghindari kontak antara hewan
dan mikroorganisme dan merupakan pintu pertahanan pertama dalam upaya
pengendalian penyebaran suatu penyakit. Penerapan biosecurity sangat diperlukan
mulai pada awal pemeliharaan unggas di kandang sampai pada saat penjajaan di
pasar. Beberapa hal yang harus dipedomani terhadap prinsip biosecurity yang
tepat adalah sebagai berikut :
1.Setiap
kendaraan pengangkut unggas yang masuk dan keluar kandang atau tempat
penampungan unggas harus di desinfektan.
2.Setiap
unggas yang datang harus dilengkapi dengan surat keterangan kesehatan hewan
(SKKH) yang dibuat oleh dokter hewan berwenang di daerah asal unggas.
3.Setiap
unggas yang datang harus mendapat pemeriksaan antemortem oleh petugas dibawah pengawasan dokter hewan yang
berwenang.
4.Hasil
pemeriksaan kesehatan unggas yang datang wajib didokumentasikan dan dilaporkan
secara berkala setiap bulan kepada dokter hewan berwenang.
5.Setiap
kandang dilengkapi dengan peralatan makan dan minum khusus
6.Tidak
mencampurkan unggas yang baru datang dengan yang lama
7.Membersihkan
kandang atau penampungan unggas dari limbah padat unggas.
8.Melakukan
pengosongan kandang atau penampungan unggas satu hari dalam dua minggu untuk
proses pembersihan dan desinfektan.
9.Mencegah
masuknya kucing, anjing, burung liar dan hewan pengganggu lainnya dalam kandang
atau penampungan unggas.
10. Menempatkan
unggas yang sakit didalam kandang tersendiri.
11. Setiap
unggas yang mati harus segera dimusnahkan dengan cara membakar.
BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN ON FARM
4.1. Waktu
dan Tempat
A. Waktu
Waktu pelaksanaan kegiatan on farm ini akan berlangsung mulai pertengahan Desember 2012 sampai
dengan akhir maret 2013
B. Tempat
Tempat pelaksanaan kegiatan on farm ini akan dilaksanakan di
Departemen Peternakan PPPPTK Pertanian Cianjur dan akan dilaksanakan pada
pertengahan bulan Desember sampai akhir bulan maret 2013.
4.2. Alat
Dan Bahan
4.2.1.
Alat
Alat
yang digunakan dalam kegiatan on farm
kandang ayam lengkap dengan tempat pakan dan tempat minum, induk buatan (brooder),
seng sebagai pembatas, thermometer, timbangan, dan semprotan.
4.2.2.
Bahan
Bahan
yang digunakan dalam kegiatan on farm adalah DOC, pakan, skam,Koran, vaksinasi,
dan obat-obatan.
4.3. Pelaksanaan
Tabel 2. Prosedur Kerja
|
No
|
Kegiatan
|
Pelaksanaan
|
Waktu Pelaksanaan
|
|
1
|
Persiapan
kandang dan
peralatan
|
1. Perhitungan kebutuhan
kandang dan
peralatan
2. Sanitasi kandang dan
peralatan
3. Pemasangan sekam
|
Minggu I
|
|
2
|
Persiapan
induk buatan
|
1. Pembuatan induk buatan
2. Pemasangan Koran
3. Pemasangan pemanas
|
Minggu
II
|
|
3
|
Penerimaan
DOC
|
1. Menyalakan pemanas
buatan ± 2 jam sebelum
DOC datang
2. Penimbangan BOX DOC
3. Penimbangan BOX kosong
4. Mengontrol kondisi DOC
5. Pelepasan DOC pada broder
6. Pemberian air minum (air gula) yang
baru datang
7. Pemberian pakan setelah air gulanya
habis
|
Minggu II
|
|
4
|
Pemeliharaan
DOC
|
1. Pemberian pakan
2. Pemberian air minum
3. Pemberian obat
|
Minggu II-Minggu V
|
|
5
|
Kesehatan
|
1. Sanitasi
2. Isolasi
3. Vaksinasi
4. Biosekuriti
|
Minggu I-Minggu V
|
|
6
|
Penimbangan
|
Penimbangan berat badan
Ayam
|
Minggu
II-Minggu IV
|
|
8
|
Pemanenan
|
Penentuan
berdasarkan pada :
Ø Bobot badan akhir
Ø Lama pemeliharaan
Ø Harga ayam dipasar
Ø Permintaan pasar
Ø Kesehatan ayam
|
Minggu V
|
|
8
|
Pemasaran
|
1. Segmentasi pasar
2. Transportasi
|
Minggu V
|
|
9
|
Evaluasi
hasil produksi
|
1.Mortalitas
2.FCR
3.Rata-rata bobot akhir
4.Standar performans akhir
|
Minggu V
|
4.4. Jadwal
Pelaksanaan
Usaha
budidaya ayam pedaging (broiler) ini akan dilakukan selama 3 bulan untuk lebih
jelasnya dapat dilihat di table dibawah ini :
Tabel 3. Jadawal kegiatan
|
No
|
Kegiatan
|
Bulan ke-
|
|||||||||||||
|
Des
|
Januari
|
Februari
|
Maret
|
||||||||||||
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Pencucian kandang
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Persiapan kandang
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Pesiapan induk buatan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Pemeliharaan DOC
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Vaksinasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Penimbangan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Pengontrolan kesehatan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Pemanenan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Pemasaran
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10
|
Seminar
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
11
|
Perbaikan laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
5.1. Keadaan Umum Peternakan
Peternakan ayam pedaging (broiler) yang berlokasi di Departemen
Peternakan PPPPTK cianjur Desa Sukajadi Kecamatan Karang Tengah Kabupaten
Cianjur ini menempati lahan 1,5 ha dengan suhu lingkungan antara 25-27°C. Hal
ini sesuai dengan pendapat Fadilah 2004 yang menyatakan bahwa temperatur yang
ideal untuk kondisi Indonesia adalah 23-26°C.
Lokasi ini kurang strategis dan kurang
baik karena berada dekat dengan keramaian (perumahan warga) dan kebisingan. Hal
ini tidak sesuai dengan pendapat Suprijatna et
al. 2005, untuk menghindari kebisingan penyebaran penyakit dan polusi, jarak
kandang harus cukup jauh dari pemukiman penduduk. Namun dilihat dari segi
pemasaran peternakan ayam pedaging yang berlokasi di PPPPTK cianjur ini sangat
bagus karena transportasi yang sangat lancar.
Total jumlah kandang di komplek
peternakan ada 28 kandang yaitu terdiri dari 12 kandang sedang, 8 kandang
kecil, dan 8 kandang besar dengan kapasitas kandang 12.500 ekor. Pemeliharaan
ayam pedaging ini dilakukan dikandang sedang dengan jumlah ayam 204 ekor. Ayam
yang dipelihara dibeli dari CV. Intan Jaya Abadi dengan harga Rp. 4.500/ekor,
berat rata-rata DOC saat dimasukkan adalah 3.39 gram/ekor.
5.2. Sanitasi
Sanitasi yang paling sering dilakukan
peternak adalah dengan desinfeksi atau penyemprotan kandang menggunakan
desinfektan. Desinfeksi adalah usaha untuk memusnahkan mikroorganisme dengan
menggunakan zat-zat kimia tertentu, sedangkan desinfektan adalah zat kimia yang
digunakan untuk mendesinfeksi. Bahan desinfektan yang digunakan adalah medisep
dengan dosis 2 cc/ 5 liter air dan diterjen dengan dosis 53 gram / 10 liter
air.
Sanitasi yang dilakukan di Peternakan
PPPPTK Cianjur dilakukan pada tanggal 4 januari 2013, sebelum atau sesudah
pemeliharaan yaitu pada saat kandang kosong 1-2 minggu yang meliputi
pembersihan lantai kandang, dinding dan atap kandang, pembersihan peralatan
menggunakan diterjen, serta penyemprotan kandang menggunakan desinfektan dengan
menggunakan medisep yang dilakukan sebelum DOC datang. Hal ini sesuai dengan
pendapat Rasyaf (2008), yang menyatakan bahwa sebelum DOC masuk kandang semua peralatan
termasuk tempat pakan dan tempat air minum harus sudah dibersihkan dengan air
bersih yang telah dicampur dengan
pembunuh kuman atau disenfektan.
Alat yang digunakan dalam kegiatan
sanitasi berupa : sapu lidi, mesin pemotong rumput, spayer dan ember. Sedangkan
bahan yang digunakan adalah medisep, rinso dan air.
Kegiatan sanitasi yang dilakukan
dipeternakan ayam pedaging PPPPTK Pertanian Cianjur, meliputi :
Langkah pertama, pembersihan
lingkungan kandang dengan cara membabat semak-semak menggunakan mesin pembabat
rumput kemudian meyapu dan mengumpulkannya ditempat yang aman.

Gambar 1. Pembersihan lingkungan
kandang.
Langkah kedua, pencucian kandang
dengan air hingga bersih dari kotoran limbah pemeliharaan ayam pedaging
sebelumnya, kemudian didesinfektan lagi menggunakan diterjen dengan dosis 106
gram/20 liter air sampai bersih setelah itu dibilas lagi menggunakan air.

Gambar 2. Pencucian kandang
Langkah ketiga, dilakuakan
penyemprotan kandang menggunakan medisep dengan dosis 2 cc/5 liter air kedalam
1 tangki penyemprot yang berguna untuk
membunuh bibit-bibit penyakit.

Gambar 3. penyemprotan kandang.
Langkah kelima, pembersihan peralatan
menggunakan diterjen, untuk membunuh bibit penyakit.

Gambar 4. Pembersihan peralatan
Langkah keenam, istrahat kandang
minimal selama 1 minggu sebelum pemeliharaan dimulai lagi, guna untuk memutus
siklus hidup virus dan bakteri yang tidak mati oleh perlakuan sebelumnya.
Hal ini belum sesuai dengan pendapat
Fadilah, 2004 sanitasi ada 7 tahap yaitu
:
1. Merapikan dan memisahkan peralatan
sesuai dengan fungsinya, selanjutnya semua peralatan dibersihkan dan dicuci
dengan air. Setelah itu semua peralatan dibersihkan dengan disenfektan.
2. (a). Membersihkan semua kotoran dan
barang yang tidak dipakai. (b). Pupuk kandang harus langsung dibersihkan dan
diangkut keluar lokasi. (c). Menyapu lantai kandang sampai bersih. (d).
Memasang tirai atau layar penutup kandang. (e). Membersihkan rumput disekitar
kandang.
3. Mencuci kandang dengan sprayer tekanan
tinggi yang dimulai dari kandang bagian atas, dinding, tirai, hingga lantai.
Bisa juga mencuci dengan deterjen dengan perbandingan 1 kg deterjen dengan 1000
liter air.
4. Melakukan sterilisasi dengan menggunakan
disenfektan yang berspektrum luas (broad
Spektrum).
5. Menaburkan kapur tohor kebagian dalam
kandang, lantai dan sekeliling luarnya dengan dosis 0.2-0.5 kg/m2 .
6. Membiarkan kandang selama 2-3 hari
hingga bagian kandang kering.
7. Menabur sekam dengan ketebalan 10 cm.
sebelum dpakai, sekam harus difumigasi menggunakan formalin dan kalium
permanganate, dengan dosis 2 : 1 ( 40 ml formalin : 20 gram kalium
permanganat).
Rasyaf (2008), menjelaskan lebih
lanjut bahwa kandang harus sudah dibersihkan dengan air bersih yang telah
dicampur dengan pembunuh kuman/desinfektan. Semua peralatan, termasuk tempat
pakan dan tempat minum.
5.3. Isolasi
Isolasi adalah pemisahan ayam yang
sakit dari yang sehat. Tujuannya untuk menghindari penularan penyakit dari
ternak yang sakit ke ternak yang sehat dan memudahkan dalam pengobatan, ayam
yang sakit harus ditempatkan dalam kandang tersendiri atau kandang karantina
yang jauh dari ayam sehat. Namun pada peternakan PPPPTK cianjur, tidak ditemukan
ayam yang sakit maupun ayam yang kerdil.
5.4. Vaksinasi
Vaksin adalah mikroorganisme yang
telah dilemahkan dan apabila diberikan kepada ternak, tidak akan menimbulkan
penyakit. Mikroorganisme tersebut justru merangsang pembentukan antibody yang
sesuai dengan jenis vaksinnya. Tujuan vaksinasi adalah membuat ayam mempunyai
kekebalan yang tinggi terhadap penyakit tertentu.
Tabel 4. Program Vaksinasi pada Ayam
Pedaging di Departemen Peternakan PPPPTK Pertanian Cianjur.
|
Umur
|
Jenis vaksin
|
Cara pemberian
|
|
4 hari
|
ND – IB
|
Suntik bawah kulit
|
|
4 hari
|
ND – AI
|
Tetes Mata
|
|
12 hari
|
Gumboro
|
Air minum
|
Sumber: Data Pelaksanaan On Farm
Langkah-langkah vaksinasi yang
dilakukan di Departemen Peternakan PPPPTK
cianjur dilakukan menurut umur ayam antara lain :
a.Tetes mata
Pada
umur empat hari atau pada tanggal 11 Januari 2013, ayam divaksinasi ND IB dengan
dosis 0.2 cc/ ekor. Sebelum vaksinasi ayam tidak dipuasakan terlebih dahulu.
Waktu pelaksanaan vaksinasi mulai pukul 8-9 pagi. Cara kerja dalam pemberian
vaksin ini adalah pertama-tama menggiringkan keseluruh sudut kandang dengan
menggunakan seng pembatas kemudian dikasih sekat, setelah itu teteskan vaksin
pada mata ayam dengan cara memegang ayam dengan tangan kiri dan tangan kanan
memegang botol vaksin. Botol vaksin apabila sudah menghadap kebawah, diusahakan
jangan dibalik menghadap keatas lagi. Teteskan larutan vaksin pada salah satu
mata satu tetes untuk tiap ekor. Jika vaksin sudah masuk ayam akan mengkedip
beberapa kali kemudian pindahkan ayam yang sudah divaksin ke bagian sekat yang
kosong. Hal ini sesuai dengan pendapat Jahja 2000, Ayam yang telah divaksinasi
diletakan diluar sekatan hingga kemungkinan terjadinya pengulangan vaksinasi
dapat diminimalisir. Usahakan vaksin yang digunakan selalu dalam keadaan dingin
sampai vaksinasi selesai.

Gambar 5. vaksinasi tetes mata
b.Suntik bawah kulit
Pada
umur empat hari atau pada tanggal 11 Januari 2013, ayam divaksinasi ND AI
dengan dosis 0.2 cc/ekor. Sebelum vaksinasi ayam tidak dipuasakan terlebih
dahulu. Waktu pelaksanaan vaksinasi mulai pukul 8-9 pagi. Cara kerja dalam pemberian
vaksin ini adalah menggiringkan keseluruh sudut kandang dengan menggunakan seng
pembatas lalu dikasih sekat, kemudian suntikkan vaksin dibawah kulit dibagian
atas leher, setelah selesai pindahkan ayam yang sudah disuntik dibagian sekat
yang kosong. Hal ini sesuai dengan pendapat Jahja 2000, Ayam yang telah
divaksinasi diletakan diluar sekatan hingga kemungkinan terjadinya pengulangan
vaksinasi dapat diminimalisir.

Gambar 6. Vaksinasi suntik
Ayam
pedaging divaksin pada umur 4 hari karena pada umur 1-3 hari ayam dalam masa
beradaptasi dengan lingkungan atau dalam kedaaan stress. Hal ini sesuai dengan
pendapat info medion (2009) Stres diakibatkan oleh adanya gangguan baik dari
luar maupun dari dalam tubuh ayam. Adanya stres menandakan ayam sedang beradaptasi
terhadap gangguan tersebut. Oleh karena itu, semakin cepat adaptasi ayam
semakin ringan stres yang dialami untuk itu vaksinasi sebaiknya dilakukan pada
umur 4 hari.
c.Melalui air minum
Pada
umur 12 hari atau pada tanggal 19 Januari 2013, ayam divaksinasi Gumboro dengan
takaran dosis 1 ampul vaksin dipecah
menjadi dua, karena dosis pemberian 1 ampul vaksin itu dipakai untuk 1000 ekor,
sepotong ampul vaksin dilarutkan kedalam 5 liter air. Hal ini sesuai dengan
pendapat Fadilah 2004, yang menyatakan vaksin gumboro diberikan pada umur 12
hari dengan mencampurkan pada air minum. Sebelum vaksinasi ayam dipuasakan
terlebih dahulu selama ± 2 jam. Hal ini sesuai dengan pendapat rasyaf 2003, agar lebih efektif ternak dipuasakan dahulu selama 2 jam
sehingga air mengandung vaksin dapat segera dikonsumsi. Vaksinasi dilaksanakan
pukul 6 sore. Cara kerja dalam pemberian vaksin ini adalah mencampurkan vaksin
kedalam 5 liter air kemudian memasukkan kedalam galon tempat air minum
masing-masing sebanyak setengah liter. Setelah vaksin habis diminum kemudian
gallon diisi dengan air putih biasa.




Gambar 7. Vaksinasi melalui air minum
Hal ini tidak sesuai dengan pendapat
Sudaryani, 2003 jadwal pelaksanaan vaksinasi dapat dilakukan tergantung pada
umur ayam. Adapun waktu pelaksanaannya dapat dilihat dibawah ini :
1. Pada
umur empat hari, ayam divaksinasi ND dengan jenis vaksin aktif. Vaksinasi
dilakukan dengan cara tetes mata dan sebelum vaksinasi ayam tidak dipuasakan
terlebih dahulu. Vaksinasi dilaksanakan mulai pukul 7 pagi sampai pukul 13
siang. Vaksin yang digunakan sebanyak 6000 dosis untuk 5500 ekor ayam (1,09 cc/
ekor). Vaksin yang digunakan disimpan dalam termos es supaya vaksin selalu
dalam keadaan dingin, dengan tujuan agar vaksin tidak cepat rusak.
Cara
kerja dalam pemberian vaksin ini yaitu, pertama-tama giring seluruh ayam ke
suatu sudut kandang, lalu beri sekat. Kemudian teteskan vaksin pada ayam satu
persatu. Simpan ayam yang sudah diberi vaksin di bagian sekat yang kosong.
Usahakan vaksin yang digunakan selalu dalam keadaan dingin sampai vaksinasi
selesai.
2. Pada
umur 13 hari, ayam divaksinasi Gumboro dengan jenis vaksin aktif. Vaksinasi
dilakukan dengan cara oral (dicampurkan dengan air minum). Sebelum vaksinasi
dilaksanakan, ayam dipuasakan terlebih dahulu selama ± 2 jam. Vaksinasi
dilaksanakan pada pukul 7 pagi. Vaksin yang digunakan sebanyak 6000 dosis untuk
5500 ekor ayam. Vaksin tersebut kemudian dicampur dengan 200 liter air,
kemudian diisikan ke dalam galon tempat air minum masing-masing sebanyak 2
liter. Setelah vaksin habis diminum oleh ayam, kemudian galon tersebut diisi
dengan air putih biasa.
3. Pada
umur 19 hari, ayam divaksinasi ND 2 dengan jenis vaksin aktif. Dosis dan cara
pemberian vaksin sama dengan saat vaksinasi Gumboro.
5.5. Biosecurity
Biosecurity adalah semua tindakan yang merupakan
pertahanan pertama untuk pengendalian wabah dan dilakukan untuk mencegah semua
kemungkinan kontak atau penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran
penyakit. Biosekurity ini dilakukan pada saat pemeliharaan ayam pedaging dengan
tujuan untuk mencegah penularan penyakit dari luar maupun dalam farm dan juga menjaga kesehatan peternak
dan juga ayam sehingga dapat mencegah penularan penyakit dari ayam ke manusia
begitupun sebaliknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Indartono. 2005,
biosecurity merupakan cara mencegah penyebaran penyakit dengan meminimalkan
kontak dengan faktor dari luar farm.
Langkah-langkah biosecurity yang diterapkan pada
peternakan PPPPTK Pertanian Cianjur meliputi; 1) penyemprotan kandang dan lingkungan
kandang dengan mengggunakan desinfektan, 2) pencucian tempat pakan dan minum 2
kali sehari, 3) pembuatan saluran air biar tidak tergenang dan menimbulkan
bibit penyakit, 4) pemusnahan ayam yang mati dengan cara dibakar, 5) program
dan jadwal vaksin. Hal ini sesuai dengan pendapat Cahyadi et al., (2011)
mengatakan bahwa Manajemen peternakan unggas harus didasarkan pada prinsip
biosekuriti yang tepat, diantaranya : (1) melakukan control dan pembatasan
terhdap kontaminasi antara unggas, manusia, dan jenis hewan lainnya, (2)
melaksanakan program sanitassi dan desinfeksi dengan melakukan program
kebersihan secara rutin utuk menciptakan lingkungan kandang yang bersih dan
bebas dari ham penyakit, dan (3) melaksanakn program vaksinasi secara tepat dan
akurat dalam upaya pencegahan penyakit dengan pengobatan secara rutin.
Biosecurity yang dilakukan pada Peternakan PPPPTK Cianjur
ini sudah

Gambar 8. Penyemprotan kandang. Gambar 9. Pencucian tempat pakan dan minum.

Gambar 10. Pembuatan saluran Gambar 11. Pemusnahan
ayam mati.
BAB
V
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Dalam penulisan laporan ini, ada
beberapa hal yang dapat penulis laporkan diantaranya sebagai berikut :
1. Pencegahan penyakit pada peternak ayam
pedaging adalah sanitasi kandang, pemberian vaksin, isolasi dan biosecurity.
2. Keberhasilan pencegahan penyakit yang
sesuai dapat dilihat dari penampilan (performance) ayam pedaging.
3. Dari beberapa metode dan pelaksanaan
pemeliharaan ayam pedaging tersebut, mahasiswa telah mampu melaksanakan
manajemen pencegahan penyakit pada ayam pedaging.
6.2. Saran
Tata laksana pemeliharaan ayam pedaging yang diterapkan
di Departemen Peternakan PPPPTK Pertanian Cianjur telah sesuai sehingga dapat
meningkatkan hasil produksi daging ayam
pedaging yang tinggi dan berkualitas baik. Namun ada yang harus
diperhatikan adalah
kebersihan, penanganan kesehatan dan biosecurity yang ketat untuk pemeliharaan ayam pedaging yang lebih baik. Untuk
itu, perlu ada perubahan dalam pencegahan
penyakit tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin,
Z. 2002. Meningkatkan Produktivitas Ayam Ras Pedaging. Agro Media Pustaka.
Jakarta.
Akhirany, Nunung. 2010. Pedoman
Pengawasan Biosecurity dan Higiene Terhadap Produk Unggas.http:atauataudisnaksulsel.infoatauPedoman-Pengawasan-Biosecurity-dan-Higiene-Terhadap-Produk-Unggas diakses : 2 Juni 2012
Darmawan, Baso. 2009. Animal & Plant Health Inspection Service (APHIS)–USDA. http:atauatauinfo.medion.co.idatauindex.phpatauartikelataubroileratautatalaksanaataubiosekuriti-bukan-hanya-desinfeksiatau1-tata-laksanaatau282-biosekuriti-bukan-hanya-desinfeksi
diakses : 3 Februari 2010
Cahyono,
B. 2004. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam ras Pedaging (broiler).Yayasan Pusat
Nusantara. Yogyakarta.
Cahyadi,
Danang Dwi. Mochammad Rifqi Wijaya, Nurida Dessalma S, Pradipta Nuri Adiyati.
Sistem Kandang Tertutup Dalam Manajemen Peternakan Unggas. Aceh
Development International Conference 2011. IPB (Institut Pertanian Bogor).
Bogor.
Dwicipto.
2010. Manajemen Kesehatan dan Kesejahteraan Ternak. Fakultas
Peternakan Universitas Padjadjaran. Bandung.
Fadilah,
R. 2011. Mengatasi 71 Penyakit Pada Ayam. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Fadilah,
R. 2004. Panduan Mengelola Beternak Ayam Broiler Komersial. Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Fadilah,
R. 2004. Ayam Broiler Komersial. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Indarto,
P. 1990. Beternak Unggas Berhasil. Armico. Bandung
Indartono,
A.S. 2005.PANDUAN MENGAHADAPI HUJAN. Poultri Indonesia : Jakarta.
Jahja,
Johari. 2000. Ayam Sehat Ayam Produktif 2. Armico. Bandung
Murtidjo,
B. A. 1987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Murtidjo.BA.
1992. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Yogyakarta.
Rasyaf, M.
2002. Manajemen Peternakan
Ayam Broiler. PT.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Rasyaf,
M. 2004. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta
Rasyaf,
M. 1992. Pengelolaan Peternakan Unggas Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rasyaf,
M. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penerbit Swadaya. Jakarta.
Sudaryani,
T. 2003. Teknik Vaksinasi dan Pengendalian Penyakit Ayam. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Sujoni.
2007. Pengetahuan Obat dan Vaksin. Pelaihari : SPP SNAKMA.
Suprijitna,
E.Umiyati, A. Ruhyat, K. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Yuwanta,
Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Wingkel,
P.T. 1997. Biosecurity in Poultry Production: Where are we and where do we go?
Prosiding 11th International Congress of the World Poultry Association.